{limabelas} Nikmatnya Puasa Di Masa COVID-19


Tidak terasa puasa Ramadan sudah melewati masa satu minggu lebih. Puasa tahun ini menjadi hal yang berbeda selain karena di dunia sedang menghadapi masa COVID-19, Ramadhan tahun ini menjadi ramadhan pertama kalinya aku tanpa Ibuk aku dan ini yang lebih berat menurut aku.

Ramadhan tahun ini tanpa terawih, tanpa ada suara orang tadarus di masjid-masjid. Jika tahun kemarin ubrek-ubrek untuk terawih di surau, sekarang berlomba-lomba terawih di rumah. Ya pemerinah memang membuat aturan melarang warganya untuk shalat terawih ataupun tadarus. Bahkan sebelum Ramadhan shalat jumat juga di larang, karena memang untuk memutuskan rantai penyebaran COVID-19.

Ramadhan tahun pertama tanpa ibu. Masak penyiapankan menu sahur dan berbuka untuk aku dan bapak, aku lakukan semua sendiri. Jika dulu terima jadi dan tinggal makan apa saja yang disiapkan sekarang semua dilakukan sendiri. Buka puasa selalu sendiri juga, Bapak setelah membatalkan puasa dengan minum segelas air putih dan sesuap nasi putih langsung pergi ke masjid untuk jamaah magrib. Sementara aku masih duduk di kursi dapur, dan mengenang kenangan dulu bersama ibu saat buka puasa seperti ini di tempat yang sama. Aah semua sudah berubah sekarang.

Lalu bagaimana menjalani puasa di tengah pandemi COVID-19 dan puasa pertama tanpa Ibu?Tetap dinikmati dan disyukuri bahwa kita masih bisa puasa dan bertemu ramadhan di tahun ini. Masih bisa buka puasa dan sahur dengan makanan yang lebih dari cukup. Kita tidak tahu di luar sana, ada berapa orang yang tetap menjalankan ibdaha puasa hanya dengan sahur segelas air putih, kita tidak tahu itu.

Jika tahun ini puasa tanpa ibu, harus tetap disyukuri masih bisa puasa bareng bapak dan anggota keluarga yang lain (meski beda rumah), kita tidak tahu lagi-lagi di luar sana ada berapa orang yang puasa sendiri atau sebatang kara dan rindu berbuka dengan keluarga.
Di atas langit memang masih ada langit. Tapi lebih seringlah menatap ke bawah karena kita akan tahu bahwa masih banyak hal masih bisa syukuri atas nikmat dan karunia yang telah ALLAH berikan kepada kita untuk saat ini.

Ada satu pertanyaan, “Apakah tahun ini bakalan masih tetap ada silaturohim / kunjungan dari rumah ke rumah?” apalagi pemerintah sudah melarang warganya untuk mudik, di beberapa titik perbatasan antar kabupaten dijaga ketat oleh aparat. Apakah tahun ini kita juga akan cukup lebaran di rumah saja? Entah. Kita tidak tahu apa yang bakan terjadi kedepannya tapi kita berharap bahwa ini COVID-19 akan berakhir.   






sumber foto :
Gambar oleh chiplanay dari Pixabay

Posting Komentar

0 Komentar