{keduapuluh dua) Baju Lama Vs Baju Baru, siapakah pemenangnya? (Sebuah Cerpen)



Mesin jahit usang itu ternyata masih bisa menunjukkan kemampuannya. Usianya mungkin sudah tua, dulu ia sempat menjadi primadona satu kampung. Meskipun ia masih dimiliki oleh orang yang sama tapi keadaan sudah semakin berubah. Semenjak sang pemilik merasa penglihatannya berkurang ia semakin banyak beristirahat dan ia tidak lagi menciptakan pakaian-pakaian dengan model terbaru. Meskipun ia tidak benar-benar beristirahat. Seperti hari ini, mulai pagi sang empu masih terus menggunakanya. Entah apa yang ia buat, tapi dirinya tahu bahwa yang sedang ia kerjakan adalah selembar kain usang.

Pintu belakang tiba-tiba terbuka, dan masuklah seorang pria yang membawa tas tangan dan terlihat peluhnya masih belum kering, mungkin ia masih lelah setelah mengayuh sepeda tua itu.

“Ningsih ke mana Bu?”

“Kayaknya Ningsih marah pak, dia sembunyi di rumah Pak Dhe, tadi bude ke sini dan bilang kalau Ningsih lagi di sana.”

“Masih marah karena minta baju baru anak itu, udah kelas 5 SD tapi kalau nggak dibelikan maju lebaran masih marah.”

“Ya namanya juga anak-anak pak.”

Itulah secuil percakapan yang aku dengar dari Bapak dan Ibu, aku harus fokus mengerjakan jahitan ini, agar hasilnya bagus. Setelah mendengar dari Ibu, aku tahu bahwa ibu sedang memberbaiki baju lama Ningsih agar tampak lebih baru.

Aku berkata pada diriku sendiri, apa Ningsih mau baju lama ini, diakan ingin baju baru bukan baju baru rasa baju lama. Tapi aku percaya dengan kemampuan Ibu, dia pasti bisa menciptakan baju baru nan indah dipandang mata.

“Sedikit lagi ini selesai Pak, nanti Bapak panggil Ningsih, tadi Bude bilang, katanya Ningsih baru mau pulang kalau dijemput bapak.”

Halaman rumah Kang Sarwi memang luas, pohon mangga yang ada di halaman itu semakin menambah asri rumah kang Sarwi. Kang Sarwi sebenarnya tidak ada hubungan saudara dengan Bapak dan Ibunya Ningsih, tapi karena rumah mereka saling berdekatan jadi mereka sudah seperti saudara saja.

Kang Sarwi dan Istrinya usia sudah tua, sekitar 5 tahun lebih tua dari usia bapak dan Ibunya Ningsih, tapi mereka berdua tidak dikarunia anak sama sekali, maka jika ada anak-anak yang bermain di halamannya mereka akan senang sekali.

“Ningsih, ayo pulang Nak.”

“Bapaaaakkkk, Ningsih punya baju baru, tadi Budhe ke pasar dan membeli Ningsih baju baru.”

“Mbakyu seharusnya gak perlu seperti ini, nanti jadi kebiasaan Ningsih.”

“Tidak apa-apa, gak hanya Ningsih kok yang Mbakyu mu belikan.” Jawab Kang Sarwi sambil menunjuk setumpuk pakaian yang masih di bungkus plastik dan tergeletak di kursi tamu.

“Ningsih, udah bilang terimakasih sama Pak Dhe dan Bu Dhe.”

“Sudah Pak, Ayo pak kita pulang, Ningsih mau memberitahu Ibu, kalau Ningsih sudah punya baju baru.”


----Selesai-------



Posting Komentar

0 Komentar