02. {Cerpen} BECAK MENCARI CINTA



Apa!!!, gak mau aku. Kamu tahu sendirikan aku paling gak suka kalau harus naik becak. Aku gak mau tahu pokoknya kamu harus jemput aku sekarang.”Kata ku dengan penuh penekanan.
“Aku mau jemput kamu, tapi kamu harus nunggu 2-3 jam lagi. Aku masih harus ketemu dengan 2 calon nasabahku. Terserah kamu kalau kamu mau nunggu selama itu.”Jawab seseorang dengan nada suara yang tidak kalah tegasnya.
“Tapi kenapa harus becak sih?ojek gitu apa gak ada disini?”dengan nada yang mulai pelan, karena sudah berhasil meredakan sedikit kekeselannya kepada orang yang kini masih menjadi lawan bicaranya di telepon.
“Tidak ada ojek di dekat situ Kania, kalau kamu mau naik ojek setidaknya kamu harus berjalan yang lumayan jauh. Satu-satunya yang mudah ya kamu naik becak, kenapa sih kamu itu alergi banget sepertinya kalau naik becak?”
Mendengar pernyataan lawan bicaranya di telepon gadis itu hanya diam saja, sebelum dia mengucapkan sesuatu untuk menjawab omongan lawan bicaranya itu. Terdengar lagi suara lagi bahwa temannya itu mulai berbicara lagi.
“Terserah kamu, mau naik becak, naik ojek, menunggu ku atau malah mau jalan kaki itu terserah kamu. Sebentar lagi aku kirim alamat kontrakan ku siapa tahu kamu berubah pikiran. Sudah aku mau berangkat bertemu dengan calon nasabah aku, kamu hati-hati ya.”
Tuttt..tuuutt...tuuuttt
Dan telephon sudah ia matikan secara sepihak. Mau tidak mau gadis cantik yang berambut hitam legam dengan panjang sebahu yang bernama Kania itu segera melangkahkan kakinya ke segerombolan abang-abang tukang becak yang sedang mangkal menunggu para calon penumpang untuk diantarkan ke tempat tujuan mereka masing-masing.
Tiba-tiba Kania menghentikan langkah kakinya, dia ragu untuk melangkah. Akhirnya dia memutuskan untuk istirahat sejenak di warung yang tidak jauh dari pangkalan becak itu. Kania rasa dirinya perlu istirahat karena menempuh perjalanan selama hampir 5 jam cukup menguras tenaganya apalagi perdebatan sebentar yang baru saja ia rasakan. Jadi tidak salah kalau dia ingin menghilangkan rasa dahaganya dan sedikit rasa bimbangnya.
Kenapa hanya untuk sekedar naik becak Kania harus merasakan bimbang seperti ini. Bukan memilih jurusan waktu dia akan masuk kuliah, ini bukan seperti itu apalagi seperti pilihan menerima lamaran seseorang. Ini permasalahan memang cukup sederhana tapi entah mengapa sulit bagi Kania untuk memutuskannya atau sekedar menganggap seperti angin lalu yang akan selesai dengan begitu saja.
Dari dulu Kania memang tidak mau sama sekali untuk naik becak, dan dia lebih untuk berjalan kaki daripada harus naik becak. Tapi sekarang situasi dan kondisinya sungguh berbeda, ia berada di kota asing yang baru sekali ia pijak dan hanya seorang diri. Sebuah hal yang penuh nyali jika ia nekat mencari alamat dengan jalan kaki sendirian di hari yang mulai gelap.
Bip,,,bip,,,
Suara headphone nada ada pesan masuk berbunyi dari dalam tas Kania. Sambil meneguk air mineral yang ia beli tadi Kania mengambil hp di dalam tas dan kemudian membacanya.
My boboboy
JL. Ikan nila no 25
Kania membaca sekilas tanpa ada niat untuk membalasnya, kemudian ia mencoba bertanya kepada ibu penjaga warung tentang alamat yang barusan dia baca. Dan si ibu itu tetap menyarankan Kania untuk naik becak, karena si ibu itu bilang alamat itu memang agak jauh, kalau ditempuh dengan jalan kaki sungguh sangat tidak disarankan. Si ibu itu juga bilang kalau sebagian besar sebentar lagi para abang becak yang mangkal itu akan pulang dan Si ibu juga bilang kalau dia sebentar lagi juga akan menutup tokonya. Hari memang sudah beranjak malam apalagi awan mendung tiba-tiba menyelimuti dan itu sebagai tanda bahwa mungkin sebentar lagi akan turun hujan.






Posting Komentar

0 Komentar