{kelima} Penerapan Social Distancing



Pandemi COVID-19 yang telah ditetapkan oleh WHO membuat seluruh negara di dunia bekerja keras untuk mencegah agar COVID-19 tidak semakin memakan korban jiwa lebih banyak lagi. Akhir-akhir ini kita sudah tidak asing lagi dengan kata-kata social distancing . Social distancing dianggap mampu mencegah  peredaran COVID-19.

Sudahkah kita tahu, apakah arti dari social distancing itu sendiri. Jangan-jangan kita termasuk orang yang ikutan-ikutan ngomong tapi tidak paham apa arti social distancing itu sendiri.

Pengertian Social Distancing.
Menurut Wikipedia , Pembatasan sosial (bahasa Inggrissocial distancing) atau menjaga jarak adalah serangkaian tindakan pengendalian infeksi nonfarmasi yang dimaksudkan untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit menular. Tujuan dari pembatasan sosial adalah untuk mengurangi kemungkinan kontak antara orang terinfeksi dan orang lain yang tidak terinfeksi, sehingga dapat meminimalkan penularan penyakit, morbiditas, dan terutama, kematian. (Sumber : id.wikipedia.org )

 Lalu bagaimana penerepan sosial distancing itu sendiri. Apakah kebijakan setiap daerah sama? Saya akan bercerita bagaimana penerapan social distancing di Kecamatan Pacitan. Aku kurang tahu dengan pasti bagaimana dengan penerapan social distancing di kota lain. Jika nanti ada pembaca dari Pacitan, kalau ada yang kurang atau kekeliruan mohon dibenarkan. Terimakasih.

Penerapan Social Distancing Di Pacitan – Jawa Timur
Beberapa waktu yang lalu saya mendapat surat edaran dari ketua RT. Ada dua surat edaran yaitu sebelum ramadhan dan surat edaran untuk pelaksanaan kegiatan selama bulan ramadhan.

Di surat pertama, diberitahukan bahwa segala kegiatan yang bersifat mengumpulkan masyarakat dilarang. Seperti kenduri, tahlilan, pesta pernikahan, arisan, imunisasi dan kegiatan lainnya.

Bahkan untuk takziyah bisa dikatakan setor muka saja, langsung pulang. Tidak ada jabat tangan dsb. Cuma ada kebijakan dari pemerintah desa acara tahlilan (selama tiga malam) boleh diadakan tahlil tapi tidak boleh ada acara memasak di rumah dan undangan maksimal 15 orang saja. Sempat terjadi kebingungan dari pihak tuan rumah, tapi ternyata bisa diadakan dengan beberapa syarat dan kebetulan yang meninggal sakit bukan karena ada dugaan COVID-19 atau habis dari daerah zona merah.

Kalau di Pacitan sendiri, untuk pasar-pasar dan toko-toko masih banyak yang buka. Kalau untuk guru memang masih diwajibkan masuk, dan pegawai negeri setahu saya sehari masuk sehari libur.

Cuma saya sendiri merasa, sejak anjuran social distancing dari pemerintah baik pemerintah daerah atau pusat dicanangkan, saya pribadi merasa enggan untuk sekedar keluar rumah kalau memang tidak penting-penting banget. Biasanya saya rapel satu hari itu untuk membeli kebutuhan untuk beberapa hari.

Mungkin saat itu masih belum terlalu terasa penerapan social distancing. Tapi setelah menerima surat edaran untuk pelaksaan kegiatan selama ramadhan, perbedaan itu terasa sekali.

Dari yang mulai anjuran terawih di rumah. Jujur saja kalau di rumah jarang sekali melakukan terawih. Sebenarnya masih ada masjid atau musholla yang mengadakan shalat terawih, tapi ya memang jamaahnya sedikit sekali dibanding tahun sebelumnya.

Bulan Ramadhan adalah bulan suci dan bulan penuh keberkahan. Doa orang yang puasa diwaktu berbuka merupakan salah satu dari delapan orang yang doanya mustajab. Mari saat kita sedang berbuka puasa kita sisipkan sebait doa agar COVID-19 segera usai.




sumber foto :
Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay




Blogger Perempuan

Posting Komentar

0 Komentar