{KEDUA} PENGARUH COVID-19 TERHADAP KEHIDUPAN SEHARI-HARI



COVID-19, semua orang di seluruh dunia sudah tahu dan sepakat bagaimana keganasan makhluk yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang ini. Tidak pandang bulu, tidak pandang status atau jabatan, semua orang tanpa terkecuali bisa terkena virus ini.

COVID-19, makhluk tak kasat mata ini membuat alur kehidupan menjadi berubah. Menjadi berbanding terbalik dengan sebelumnya. Keberadaanya memang sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari kita yang memang terlahir menjadi makhluk sosial.
Penerapan social distancing, physical distancing, WFH (Work Form Home) dan yang baru-baru ini adalah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Apakah hanya orang dewasa saja yang merasakan dampaknya, salah besar semua lapisan masyarakat juga mengalami dampaknya. Sebut saja anak-anak usia sekolah mereka harus libur dan belajar di rumah, sehari dua hari mereka akan mungkin merasakan kebahagiaan, lalu bagimana kalau sudah hampir satu bulan. Di Jawa Timur, atau tepatnya di Pacitan anak-anak sudah mulai libur sekolah sejak tanggal 17 Maret 2020, dan terakhir kabar yang aku dengar dari keponakan aku, mereka baru masuk lagi sekitar bulan Juni. Kebosanan sudah mulai mereka rasakan, mau keluar rumah ada larangan, mau jalan-jalan ke tempat wisata banyak objek wisata yang ditutup.

Di Pacitan sendiri untuk PSBB belum diperlakukan, hanya social distancing dan Physical distancing yang masih dikenjarkan oleh pemerintah daerah. Beberapa larangan sudah mereka terbitkan. Beberapa jalan sudah ditutup oleh masyarakat  secara gotong royong.


Apa yang berubah :
  • Jika dulu, kita berdiam diri di rumah dianggap kuper atau kurang pergaul, sedangkan sekarang pemerintah daerah hingga pusat pun mengharuskan kita untuk tetap di rumah jika tidak ada hal yang mendesak.
  • Jika dulu kaum rebahan dihina, dibully atau dipandang rendahan, sekarang dengan rebahan di rumah saja, kita sudah bisa membantu Indonesia pada umumnya.
  • Jika dulu berkumpul, arisan, nongkrong, tasyukuran, pengajian menjadi agenda rutin, sekarang semua berhenti. Tidak ada lagi kumpul-kumpul, karena semua kegiatan yang bersifat mengumpulkan masa di larang.




Itu mungkin hanya sebagian kecil saja, dan masih banyak lagi kerugian-kerugian yang ditimbulkan oleh COVID-19,  ada berapa ribu pekerja yang terpaksa diberhentikan oleh perusahaan. Ada berapa ribu orang yang kesulitan mencari uang karena mereka adalah pekerja harian. Semua lapisan masyarakat benar-benar merasakan dampaknya, tidak hanya di kota besar, pengaruh COVID-19 juga sampai di daerah-daerah pelosok.

COVID-19, di Indonesia kemunculannya berdekatan dengan bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Bulan dengan kekuatan mengumpulkan orang paling besar. Sebut saja Shalat Tarawih, Shalat Subuh berjamahan di Masjid, Tadarus bersama, Buka Puasa Bersama, Saur On The Road, belum lagi Mudik.



Pelarangan Mudik, Penerapan Social Distancing, Physical Distancing, PSBB dan semua anjuran dari pemerintah semua itu hanya murni satu tujuan yaitu untuk menghentikan laju penyebaran COVID-19.

Jika pemerintah dan aparat melakukan ini semua untuk kita, kenapa kita tidak bisa mentaati anjuran mereka.

Siapapun kita dan apapun pangkat kita, kita semua berharap agar COVID-19 ini segera selasai dan tidak ada lagi korban yang berjatuhan. Aamiin.





sumber gambar :
Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay
Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay
Gambar oleh Fathromi Ramdlon dari Pixabay
Gambar oleh thedarknut dari Pixabay



ceknya di sini aja : 30-day-ramadan-challenge-2020/

Posting Komentar

0 Komentar