RINDU ITU MEMANG......




Rindu bagai dua mata pisau yang siap menikam siapa saja yang mampu menikmati kekuatan rindu.
Aku pernah merasakan rindu, hingga sampai di titik di mana hanya bisa menangis yang aku lakukan.
Apa hal paling berat bagi seorang yang merindukan seseorang tapi tidak bisa ber-say hello. Rindu itu sendiri jawabannya.
Jemariku pun tidak bisa menghitung berapa kali aku merindukannya.
Tak pernah sedikitpun aku berusahan untuk menepisnya.


Jika hanya menangis dan rindu itu berkurang, maka aku akan melakukannya.
Jika dengan menulis, namanya abadi dalam setiap kata rindu yang aku tuliskan, maka aku tidak segan untuk menulis ribuan kata rindu untuknya.
Dia memang menjadi segala dari semua rindu ini, meskipun aku tahu siapa diri ini di matanya. Dan aku tidak peduli tentang apa yang ia pikirkan untukku.
Itu dulu. Lalu bagaimana sekarang?
Rindu ini masih ada, masih terus ada tanpa pernah kuminta dan tanpa pernah aku ucapkan bahwa aku merindukannya,


tapi aku ingin membuat rindu ini menjadi biasa saja, tanpa tangisan dan tanpa tulisan. Jika dua hal itu masih aku lakukan, maka rindu akan tetap membuatmu menjadi segalanya, dan jelas bukan itu yang aku inginkan.
Membuatmu menjadi hal biasa memang tidak mudah, karena nyatanya kamu memang istimewa.
Seistimewa rindu yang terus mengkar dan tumbuh tanpa bisa kuhentikan.
Mereka pernah bilang padaku, bahwa waktu akan menghapus rinduku untuk kamu, tapi aku rasa mereka tidak pernah merindukan seseorang yang sudah menjadi milik orang lain.
Rindu dan kamu, yang aku rindukan itu kamu, dan kamu adalah yang selalu aku rindukan.
Sial memang, tapi aku bisa apa.



Posting Komentar

2 Komentar

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak. j