CITA-CITA MU APA NAK?



Di suatu pagi di salah satu sekolah dasar sedang terjadi keributan. Keributan itu terjadi di ruang kelas 2. 15 murid yang berada di kelas itu, tapi ramainya sudah seperti satu sekolahan. Usut punya usut ternyata hari ini mereka tidak ada mata pelajaran sebagai gantinya mereka akan kedatangan guru baru yang tidak akan mengajari mereka belajar tentang pelajaran sekolah. Dan itu rupanya membuat mereka bahagia.

Dikki, yang bekerja sebagai salah satu cameramen yang sudah ia geluti cukup lama, pada hari ini mendapatkan jadwal untuk memperkenalnya apa pekerjaan dia kepada anak-anak agar menambah wacana anak-anak tentang cita-cita.

“Kamu mau jadi apa nanti cita-citanya?” pertanyaan pertama yang Dikki keluarkan setelah sesi perkenalan yang entah dipedulikan apa tidak, karena anak-anak gaduh bener.

Anak laki-laki yang duduk di bangku paling depan sebelah ujung tampak kaget mendapatkan pertanyaan dari Dikki.
“Jadi sopir bus.” Jawab anak yang bernama Tono itu.
Dikki melongo mendengar jawaban Tono. Kemudian Dikki melanjutkan pertanyaan kepada Tono. “Sopir bus? Mungkin maksud kamu pesawat?” Dikki mengira Tono lupa penyebutkan pesawat.

“Tidak, saya nanti mau jadi sopir bus.” Jawab Tono yakin dan penuh kemantapan. Bahkan Dikki menyakinkan Tono akan cita-citanya sebanyak lebih dari tiga kali. Tapi hasilnya, akhirnya Dikki cuma bisa berkata “Semoga nanti jadi sopir bus yang sukses dan punya banyak bus. Aamin.” Serentak satu kelas mengamini.

Kemudian Dikki mendekat ke arah murid perempuan, yang berkucir dua dan jika si anak ini tersenyum maka akan nampak ompong, karena giginya tanggal 3 sekaligus.

“Kalau kamu cita-citanya mau jadi apa.”
“Saya mau jadi guru TK.”
“Kenapa tidak ingin jadi dokter atau dosen seperti kakak Mita yang tadi atau jadi polwan.”
“Emm, karena semuanya kalau mau sekolah pasti akan ke TK dulu.”
Lagi-lagi jawaban dari anak kecil itu cukup membuat Dikki tertegun.

“Baiklah sekarang, apapun cita-cita dari kalian Kakak mohon tulis di kertas berbentuk bintang yang sekarang ada di depan kalian yaa.”

Dikki berjalan dari satu bangku ke bangku yang lain, tiba di salah satu bangku, ada ada lelaki yang hanya diam dan memandangi kertas berbentuk bintang serta memegang sebuah pensil.

“Kok belum ditulis cita-citanya.” Anak yang bernama Dani itu hanya tersenyum dengan menunjukkan giginya yang putih bersih. Tiba-tiba Dikki merasa ujung bajunya ada yang menarik-nariknya, ternyata dia adalah Naina, gadis kecil yang bercita-cita jadi guru TK. Dia memberi isyarat kepada Dikki untuk menunduk setelah Dikki menunduk, ia membisikan sesuatu kepada Dikki.

“Kak, Boby belum bisa baca dan tulis.”
Kemudian Naina lari ke arah bangkunya setelah memberi tahu Dikki.
“Bobby, cita-citanya mau jadi apa?”
“Bobby mau jadi polisi kak, biar bisa pegang pistol beneran, tapi Bobby belum bisa nulis di sininya kak.”
“Baik, tapi Boby huruf sudah tahu kan?” Bobby mengangguk mantap. Kemudian Dikki membantu Bobby untuk menuliskan cita-citanya di kertas berbentuk bintang tersebut.

“Buat adik-adik di kelas ini, apapun cita-cita kalian nanti, mau jadi presiden, mau jadi sopir bus, mau jadi guru TK, mau jadi polisi, mau jadi pedagang sayuran kalian harus tetap rajin belajar. Karena orang pintar tidak akan mudah dibohongi. Biar kalian bisa jadi orang paling hebat. Siapa sopir paling pintar di Indonesia? Tono. Siapa guru TK paling hebat di Indonesia? Naina. Siapa polisi paling hebat di Indonesia? Robby. Siapa pedagang paling pintar di Indonesia? Santi.”

“Jadi kak Dikki harap, kelak nanti kalau kalian sudah besar kalian jadi orang hebat ya. yang membanggakan orang tua, sekolah, negara dan agama kalian ya. semuaaa siaaap jadi orang hebat !!!!!”
“Siaaaaaappppp”





catatan : tulisan ini dibuat untuk mengikuti Blog Challenge #BlogChallengeSeptember , di hari ke sembilan dengan tema "CIta-cita." 

Posting Komentar

0 Komentar