{CERITA MINI} RAHASIA PREMI



Bunyi kedebag-kedebug dari kamar paling ujung di kostan 50 beberapa hari ini sering terdengar. Si pemilik kamar sudah dua hari tidak menampakan batang hidungnya. Jika diketuk pintu kamarnya tidak pernah dibuka dan hanya dijawab dengan teriakan bahwa ia tidak apa-apa.

Hanya dua orang yaitu Tini dan Astrid yang pernah tanpa sengaja bertemu dengannya waktu mereka hendak ke kamar mandi. Premi nama anak kost itu. Tini bilang saat berpapasan dengan Premi, Premi tak menegurnya ia malah sibuk dengan ponselnya dan serius bicara dengan seseorang, Tini hanya mendengar Premi mengatakan “lakukan sesuai perintahku, atau kalian yang mati”.

Sementara Astrid, yang punya kebiasaan lapar ditengah malam dan hobi bikin mie instan bilang ia melihat Premi di dapur hanya bisa membelakkan matanya, saat ia melihat benda yang direbus oleh Premi yaitu dua buah pisau.

Dihari ketiga, mereka sepakat akan melaporkan Premi ke penjaga kostan. Tapi mereka dibuat terkejut dengan apa yang diceritakan oleh Bu Rani. Kostan ini memang dilengkapi oleh kamera cctv yang diletakkan di ruang tamu yang bisa langsung melihat ke halaman depan, ruang tamu kostan ini memang tidak bersekat, jadi jika para penghuni kostan sedang ada tamu, maka mereka bisa melihat siapa saja yang keluar masuk ke kostan.

Bu Rani bilang bahwa ia pernah melihat Premi dalam satu jam itu keluar masuk kostan sebanyak 3 kali dan membawa bungkusan seperti kardus mie instan yang sudah dibungkus dengan tas kresek hitam.

Pemikiran mereka mengerecut pada satu titik, ada yang pernah melihat Premi membawa temannya masuk ke dalam kamar dan tidak ada yang tahu kapan teman premi itu pulang. Akhirnya mereka memutuskan untuk memaksa Premi keluar, jika Premi tidak mau keluar dengan suka rela mereka sepakat akan memaksa Premi meskipun dengan mendobrak pintu kamar. Mereka tidak rela jika kostan tercinta ini menjadi sarang kejahatan dan tindakan yang tidak bermoral lainnya.

Satu kali ketukan dan panggilan tidak terjawab, hingga tiga kali ketukan tidak ada reaksi dari dalam kamar mereka memutuskan untuk mendobrak kamar Premi.

Dalam hitungan ketiga, pintu kamar yang sepertinya tidak akan ambruk oleh tenaga tiga orang wanita dewasa itu kini tampak tak berbentuk, engsel pintu sudah lepas, dan bunyi kedubrak dari benturan pintu dan lantai sama sekali tidak memberi efek bagi si pemilik kamar. Premi masih terbui dengan alam mimpinya, dengan posisi yang jauh dari kata anggun. Tumpukan majalah berserakan, ada yang sudah di dalam kardus ada yang masih berserakan.

Dengkuran halus dari Premi membuat kelima wanita yang baru saja menyelesaikan misi penyelamatan saling pandang, pandangan mereka bertemu pada satu titik, kertas putih yang tertempel di kardus sebuah nama tertulis di sana “ TAMAN BACA MEKAR”.

Lalu siapa yang akan mati dan pisau yang Premi rebus itu untuk apa? Sepertinya dua hal itu menjadi rahasia mereka karena teriakan Premi membuat mereka segera lari ke kamar mereka masing-masing.

(Pacitan, 04 Apri 2019)


Posting Komentar

0 Komentar